Dan
memperhatikan dengan saksama perempuan berkerudung merah hati itu. Wajahnya
agak tirus dengan make up tipis. Ada sedikit kerut-merut di kanan kiri hidung,
serta agak berkantung di kelopak mata bagian bawah. Kulitnya relatif putih
dengan beberapa flek sangat minimalis, dan nyaris tak terlihat dalam jarak
pandang tertentu. Dibalut busana muslim warna coklat tua dengan lengan sebatas
siku; namun dari arah dalam disambung manset panjang sewarna dengan
kerudungnya, wanita itu terlihat charming dan modis. Terlebih dipadu dengan tas
bermerek internasional pada lengan kirinya.
“Ke mana kita, Bu?” tanyanya sopan sambil melirik kaca spion ketika mobil mulai meninggalkan area parker. Dilihatnya wanita itu mengeluarkan smartphone.
“Sebentar. Jalan saja perlahan,” katanya. Kemudian terlihat dia menekan beberapa tombol angka, lalu mulai bicara dengan seseorang. “Assalaamu’alaikum … Kakak baru sampai nih, Ti …”
“Oh, ya? Aduuuh, maaf. Hetty tak bisa jemput,” sahut suara di seberang telepon selulernya. “Kakak sama siapa?”
“Sendirilaah... Sama siapa pula?”
“Ke mana kita, Bu?” tanyanya sopan sambil melirik kaca spion ketika mobil mulai meninggalkan area parker. Dilihatnya wanita itu mengeluarkan smartphone.
“Sebentar. Jalan saja perlahan,” katanya. Kemudian terlihat dia menekan beberapa tombol angka, lalu mulai bicara dengan seseorang. “Assalaamu’alaikum … Kakak baru sampai nih, Ti …”
“Oh, ya? Aduuuh, maaf. Hetty tak bisa jemput,” sahut suara di seberang telepon selulernya. “Kakak sama siapa?”
“Sendirilaah... Sama siapa pula?”
Suara lawan
bicaranya mengikik. “Nginap di tempat akulah, ya? Cuma sempit, maklum anak
kost.”
“Eh, daerah
mana ko bilang tempo hari?”
“Kuningan.
Ya, Kak ya? Pliiiis … Nginap di tempat
akulah, ya?”
“Kita tengok
nanti ajalah. Kayaknya udah sore. Nanti kakak hubungi ko, ya?”
“Eh, Kakak
mau berapa hari di sini?”
“Mungkin dua
atau tiga hari …” jawab wanita itu, kemudian memutuskan pembicaraan. “Ke daerah
Kuningan aja, Pak,” katanya kepada si sopir.
“Baik, Bu.”
Hamdan menghela nafas lega. Tujuan sudah jelas, sehingga dia tidak perlu
melambatkan laju kendaraan, yang nanti dikhawatirkan merugikan penumpngnya
dengan argo yang terus berjalan. Namun seperti kata pepatah: Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak;
mereka malah terjebak macet di pintu tol dalam kota. “Maaf, Bu …” ucapnya
lirih.
“Tak apa …”
Penumpangnya mengedar pandang ke sisi jalan pada rerimbunan pohon bakau yang
sudah bercampur dengan bangunan pergudangan.
Hamdan
menyetel musik dengan volume rendah. Audio dalam mobil yang apik membuat suara
yang terdengar menjadi nyaman di telinga. Satu hit lawas dari Daniel Sahuleka
mengalun lembut.
“Don’t sleep
away this night my baby
please stay with me at least till down …”
please stay with me at least till down …”
Sang
penumpang melirik padanya, yang kebetulan terlihat oleh Dan. Ekspresinya datar,
sehingga ia merasa wanita itu terganggu.
“Maaf, kalau
Ibu terganggu, saya matikan saja …”
“Nggak usah.
Biarkan saja.,” tukas wanita itu. “Suka lagu ini?” tanyanya selang beberapa
lama.
Dan
tersenyum. “Suka juga. Biasalah, waktu muda pernah kenal cewek, Bu. Saat itu
lagu ini sedang hit, jadi terbawa sampai sekarang.”
“Tapi
ceweknya kan sudah jadi istri sekarang?”
Dan malah
tertawa kecil. “Nggak, Bu. Dia meninggalkan saya ….”
“Maaf ....”
“Nggak
apa-apa, Bu. Masa lalu,” kata Dan datar. “Ibu dari Sumatera, ya?”
“Iya, Medan
…”
“Medan? Wah,
saya pernah ke sana lho, Bu!”
“O, ya?”
Dan
mengangguk cepat. “Ada saudara jauh. Tinggalnya di Jalan Ayahanda,” katanya
bercerita. “Waktu itu saya nganggur dan sedang cari pekerjaan. Tapi di sana
juga nggak lama. Cuma tiga bulan.
Lumayanlah, waktu sesingkat itu saya bisa jalan-jalan dan sedikit mengenal
daerah itu.”
Wanita itu
cuma tersenyum. Ekspresinya tak berlebihan.
“Ada family
di Jakarta, Bu?” tanya Dan saat kemacetan mulai terurai sedikit demi sedikit.
“Mmm … hanya
kenalan.”
“O … Hanya
itu yang bisa diucap Dan. Kendaraan melaju kencang karena godaan jalan lurus, dan volume
kendaraan yang relatif mampu dilewati dengan mudah. Selip kanan, lurus, lalu
selip kiri, tekan gas.
“Nggak usah
terburu, Pak. Malah membahayakan. Biasa saja.”
“Eh, iya,
Bu. Maaf. Saya hanya merasa nggak enak, sebab waktu macet tadi argo kan jalan
terus. Nanti kalau saya lambat takut
dikira sengaja ….”
“Nggak
apa-apa. Tenang saja ….”
Hamdan
menghela nafas sejenak. “Mantan pacar saya dulu kabur karena menganggap saya
bukan lelaki jantan,” katanya coba memulai pembicaraan lagi. Tapi sepertinya
wanita itu cuma merespon dengan senyum tipis yang kesannya terpaksa. Tapi
Hamdan tetap nekat untuk terus bercerita. “Maksudnya bukan karena saya seperti
wanita, tapi karena saya bukan ahli berkelahi, dan bukan pula ahli dalam balap
motor. Belakangan saya tahu kalau ternyata dia lebih menyukai lelaki tipe
seperti itu. Tapi temannya bilang dia memang sudah dijodohkan dari kecil.
Maklumlah, Bu. Pacar saya itu konon keturunan ningrat, jadi katanya kelak mesti
menikah dengan kalangan ningrat pula,” cerocos Hamdan. Dari kaca spion dia
lihat wanita itu coba menegaskan pandangan kepadanya dengan tatapan menelisik,
tapi Dan buru-buru melengos.
“Padahal
saya sangat mencintainya, dan menancapkan tekad untuk setia bersama-sama,”
lanjut Hamdan. “Kami bahkan pernah melakukan hal gila dengan menusukkan jari,
dan darah yang keluar ditampung dalam
cawan berisi air, lalu kami minum bersama. Barangsiapa melanggar janji
kesetiaan, maka dia akan celaka …!”
“Siapa
kamu?” tanya wanita itu tiba-tiba menukas.
“Maaf, Bu?”
tanya Hamdan kaget. Dilihatnya wanita itu memandangnya penuh selidik.
“Kamu bukan
sopir asli taksi ini, kan?”
Hamdan
menghela nafas sebelum mengangguk. Tentu saja wanita itu menduga demikian setelah
melihat profil sopir taksi yang terpampang dekat dashboard sebelah kiri,
berbeda dengan dirinya. “Pak Slamet sedang sakit, dan saya tetangganya,” jelas
Dan. “Beliau butuh uang, dan saya pun
demikian. Itulah sebabnya mengapa saya menggantikannya. Maaf, Bu. Kalau cerita
saya tadi mengganggu, saya betul-betul mohon maaf. Tidak ada maksud apa-apa,
selain untuk mencairkan suasana saja. Sekali lagi mohon maaf, Bu.”
“Sudahlah …
nggak apa-apa.”
“Sebentar
lagi kita sampai. Ibu mau diturunkan di mana?” tanya Hamdan.
“Di depan
sana, di hotel itu,,” tunjuknya ke satu gedung bertingkat.
“Baik, Bu.”
Wanita itu
agak kesulitan untuk coba mengamati wajah si sopir taksi saat hendak membayar,
sebab selain merendahkan lidah topinya, Hamdan pun seperti enggan bertatap
muka. Mungkin masih merasa malu karena membuat penumpangnya agak kesal dengan
ceritanya tadi. Sehingga terkesan ingin buru-buru terima uang lalu pergi.
Hampir
bersamaan dia berlalu, sebuah taksi lain merapat dan berhenti. Seorang wanita
ayu, berkulit putih dengan rambut dicat pirang, berusia sekitar 30-an , turun
dan langsung menghambur. “Kakaaaaak …!” teriaknya girang.
“Hetty? Lho,
kok ko ada di sini?” seru wanita yang tadi menumpang taksi Hamdan, dan sesaat
gelagapan ketika tubuhnya dipeluk kuat-kuat.
“Iyalah! Aku
kan tahu. Tiap kali ke Jakarta kan Kakak selalu nginap di hotel ini. Hapallah
aku …” sahut Hetty. “Ah, Kakak tega kali, nggak mau nginap di tempatku …”
lanjutnya merajuk.
“Aaah, ko
ini mengkek kali pun! Macam tak tahu aja ko ini. Tiap rapat di Jakarta, pasti
di hotel ini, jadi hemat waktu dan tenaga kan kalo nginap di sini.”
“Tapi besok
sebelum balik, mampir, ya?”
“InsyaAlloh
…”
“Janji, ya?
Awas kalau tak ditepati,” ancam Hetty.
Wanita yang
dipanggil ‘kakak’ itu tersenyum getir. Tiba-tiba dia ingat dengan cerita sopir
taksi tadi soal janji setia. Hela nafasnya terasa berat, dan sambil merangkul
Hetty, dia mengajaknya ke dalam.
***
“Bang …?”
“Hmm ....”
“Abang kok
diam aja?”
“Ya mau
bicara apa lagi? Situasi sudah berubah. Sekian puluh tahun waktu menyela, dan
kini tak ada lagi yang tersisa.”
“Dia sempat
membicarakan soal Abang. Tak banyak, sih. Tapi sepertinya dia menyesal. Abang
tak berusaha mendekatinya lagi? Sekarang dia janda lho, Bang?”
“Hallaah, ko
ini macam-macam aja!”
“Tapi Abang
masih cinta kan sama dia? Buktinya waktu Ti bilang dia mau ke Jakarta, respon
Abang cepat kali. Tapi Abang tak coba untuk lihat-lihat dia?”
“Nggak.”
“Ah, bohong
lah! Dia sempat curiga sama sopir taksi yang ngantar dia ke hotel. Itu Abang,
ya?”
Tak ada
jawaban.
“Ti yakin
itu pasti Abang. Abang nyopir taksi di bandara?”
“Nggak, cuma
nyerep ….”
“Ti jadi
ingat sesuatu. Sejak di Jakarta, kita baru dua kali ketemu, dan Abang tak
pernah mau cerita soal pekerjaan atau usaha. Bahkan Ti mau ke rumah aja,Abang
tak mau ngajak. Abang kenapa, sih? Meskipun kita bukan saudara kandung, tapi
ikatan darah satu bapak itu kan kuat, Bang? Apa Abang tak anggap Ti sebagai
saudara? Waktu Abang masih tinggal di Medan, Ti aja sudah anggap sebagai
saudara kandung. Kenapa sih, Bang?”
Kembali
hening.
“Bang
Hamdan?”
“Ya ….”
“Kenapa?”
“Nantilah
suatu waktu pasti akan abang ajak ko ke rumah, cuma tidak sekarang ….”
“Kenapa?
Abang malu kalau rumah jelek dan Ti hina?”
“Sudahlah,
nggak usah dibahas. Sudah malam, ko harus tidur. Lain waktu kita sambung lagi.”
Ti menghela
nafas. “Kak Mayang kirim salam sama Abang. Dia titip nomornya, siapa tahu Abang
mau menghubunginya. Nanti Ti sms.”
“Malam, Ti.
Jaga kesehatan, ya? Assalaamu’alaikum ….” Kata Hamdan tak merespon ucapan
adiknya.
“Malam juga,
Bang. Sama-sama. Wa’alaikumsalaam ….”
Hamdan baru
saja meletakkan hp ketika seseorang datang menghampiri. “Biasa, Bang. Rokok
setengah ama kacangnya dua. Besok minta ama bapak, ya?” kata si pembeli. Hamdan
cuma nyengir sambil menyerahkan pesanan. Si pembeli adalah anak Haji Juhari,
yang dengan kebaikannya memberi tempat untuk meletakkan kios rokok di atas got
depan rumahnya; di mana Hamdan mencari nafkah, dan sekaligus sebagai rumahnya.
Mana mungkin dia berani menagih, karena orang lain saja berani membayar
tempatnya sejuta sebulan sebagai ongkos sewa, sementara dia gratis. Bahkan
gratis pula menumpang mandi dan BAB di tempat Haji Juhari.
Ti atau
Hetty, adik tirinya, bekerja pada sebuah perusahaan asing, sedangkan Mayang,
menurut cerita Hetty, adalah direktur area yang mengawasi kawasan Asia Tenggara
dari sebuah perusahaan farmasi asing. Bandingkan dengan dirinya? Masih beranikah
dia bicara cinta dan menagih kesetiaan? Hamdan yang bodoh dan lugu. Cinta
pertama kepada tetangga sebelah rumah, hanya karena diberi perhatian yang
selama ini jarang diperolehnya, maka cinta pun terpatri, dan kesetiaan pun
dilekat jadi satu. Tak peduli hati tersakiti, janji tetap dijunjung tinggi.
Hhhh …. Hela
nafasnya terasa berat, dan bertambah sesak kala sebatang rokok dihisapnya.
Udara malam ini terasa dingin tatkala angin bertiup membawa butiran air yang
mengembun. Malam terasa pekat tanpa bulan. Awan hitam begitu merajai tiap kaki
langit beberapa waktu belakangan, sehingga tak lagi dilihatnya senja di ujung
siang.
***
T
A M A T
Jakarta
13-07-2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar