Dropdown

Selasa, 12 Januari 2016

DAN SENJA PUN USAI



Dan memperhatikan dengan saksama perempuan berkerudung merah hati itu. Wajahnya agak tirus dengan make up tipis. Ada sedikit kerut-merut di kanan kiri hidung, serta agak berkantung di kelopak mata bagian bawah. Kulitnya relatif putih dengan beberapa flek sangat minimalis, dan nyaris tak terlihat dalam jarak pandang tertentu. Dibalut busana muslim warna coklat tua dengan lengan sebatas siku; namun dari arah dalam disambung manset panjang sewarna dengan kerudungnya, wanita itu terlihat charming dan modis. Terlebih dipadu dengan tas bermerek internasional pada lengan kirinya.

“Ke mana kita, Bu?” tanyanya sopan sambil melirik kaca spion ketika mobil mulai meninggalkan area parker. Dilihatnya wanita itu mengeluarkan smartphone.

“Sebentar. Jalan saja perlahan,” katanya.  Kemudian terlihat dia menekan beberapa tombol angka, lalu mulai bicara dengan seseorang. “Assalaamu’alaikum …  Kakak baru sampai nih, Ti …”


“Oh, ya? Aduuuh, maaf. Hetty tak bisa jemput,” sahut suara di seberang telepon selulernya. “Kakak sama siapa?”

“Sendirilaah... Sama siapa pula?”
Suara lawan bicaranya mengikik. “Nginap di tempat akulah, ya? Cuma sempit, maklum anak kost.”
“Eh, daerah mana ko bilang tempo hari?”
“Kuningan. Ya, Kak ya? Pliiiis … Nginap  di tempat akulah, ya?”
“Kita tengok nanti ajalah. Kayaknya udah sore. Nanti kakak hubungi ko, ya?”
“Eh, Kakak mau berapa hari di sini?”
“Mungkin dua atau tiga hari …” jawab wanita itu, kemudian memutuskan pembicaraan. “Ke daerah Kuningan aja, Pak,” katanya kepada si  sopir.
“Baik, Bu.” Hamdan menghela nafas lega. Tujuan sudah jelas, sehingga dia tidak perlu melambatkan laju kendaraan, yang nanti dikhawatirkan merugikan penumpngnya dengan argo yang terus berjalan. Namun seperti kata pepatah: Untung  tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak; mereka malah terjebak macet di pintu tol dalam kota. “Maaf, Bu …” ucapnya lirih.
“Tak apa …” Penumpangnya mengedar pandang ke sisi jalan pada rerimbunan pohon bakau yang sudah bercampur dengan bangunan pergudangan.
Hamdan menyetel musik dengan volume rendah. Audio dalam mobil yang apik membuat suara yang terdengar menjadi nyaman di telinga. Satu hit lawas dari Daniel Sahuleka mengalun lembut.
“Don’t sleep away this night my baby
  please stay with me at least till down …”
Sang penumpang melirik padanya, yang kebetulan terlihat oleh Dan. Ekspresinya datar, sehingga ia merasa wanita itu terganggu.
“Maaf, kalau Ibu terganggu, saya matikan saja …”
“Nggak usah. Biarkan saja.,” tukas wanita itu. “Suka lagu ini?” tanyanya selang beberapa lama.
Dan tersenyum. “Suka juga. Biasalah, waktu muda pernah kenal cewek, Bu. Saat itu lagu ini sedang hit, jadi terbawa sampai sekarang.”
“Tapi ceweknya kan sudah jadi istri sekarang?”
Dan malah tertawa kecil. “Nggak, Bu. Dia meninggalkan saya ….”
“Maaf ....”
“Nggak apa-apa, Bu. Masa lalu,” kata Dan datar. “Ibu dari Sumatera, ya?”
“Iya, Medan …”
“Medan? Wah, saya pernah ke sana lho, Bu!”
“O, ya?”
Dan mengangguk cepat. “Ada saudara jauh. Tinggalnya di Jalan Ayahanda,” katanya bercerita. “Waktu itu saya nganggur dan sedang cari pekerjaan. Tapi di sana juga  nggak lama. Cuma tiga bulan. Lumayanlah, waktu sesingkat itu saya bisa jalan-jalan dan sedikit mengenal daerah itu.”
Wanita itu cuma tersenyum. Ekspresinya tak berlebihan.
“Ada family di Jakarta, Bu?” tanya Dan saat kemacetan mulai terurai sedikit demi sedikit.
“Mmm … hanya kenalan.”
“O … Hanya itu yang bisa diucap Dan. Kendaraan melaju kencang  karena godaan jalan lurus, dan volume kendaraan yang relatif mampu dilewati dengan mudah. Selip kanan, lurus, lalu selip kiri, tekan gas.
“Nggak usah terburu, Pak. Malah membahayakan. Biasa saja.”
“Eh, iya, Bu. Maaf. Saya hanya merasa nggak enak, sebab waktu macet tadi argo kan jalan terus.  Nanti kalau saya lambat takut dikira sengaja ….”
“Nggak apa-apa. Tenang saja ….”
Hamdan menghela nafas sejenak. “Mantan pacar saya dulu kabur karena menganggap saya bukan lelaki jantan,” katanya coba memulai pembicaraan lagi. Tapi sepertinya wanita itu cuma merespon dengan senyum tipis yang kesannya terpaksa. Tapi Hamdan tetap nekat untuk terus bercerita. “Maksudnya bukan karena saya seperti wanita, tapi karena saya bukan ahli berkelahi, dan bukan pula ahli dalam balap motor. Belakangan saya tahu kalau ternyata dia lebih menyukai lelaki tipe seperti itu. Tapi temannya bilang dia memang sudah dijodohkan dari kecil. Maklumlah, Bu. Pacar saya itu konon keturunan ningrat, jadi katanya kelak mesti menikah dengan kalangan ningrat pula,” cerocos Hamdan. Dari kaca spion dia lihat wanita itu coba menegaskan pandangan kepadanya dengan tatapan menelisik, tapi Dan buru-buru melengos.
“Padahal saya sangat mencintainya, dan menancapkan tekad untuk setia bersama-sama,” lanjut Hamdan. “Kami bahkan pernah melakukan hal gila dengan menusukkan jari, dan darah  yang keluar ditampung dalam cawan berisi air, lalu kami minum bersama. Barangsiapa melanggar janji kesetiaan, maka dia akan celaka …!”
“Siapa kamu?” tanya wanita itu tiba-tiba menukas.
“Maaf, Bu?” tanya Hamdan kaget. Dilihatnya wanita itu memandangnya penuh selidik.
“Kamu bukan sopir asli taksi ini, kan?”
Hamdan menghela nafas sebelum mengangguk. Tentu saja wanita itu menduga demikian setelah melihat profil sopir taksi yang terpampang dekat dashboard sebelah kiri, berbeda dengan dirinya. “Pak Slamet sedang sakit, dan saya tetangganya,” jelas Dan.  “Beliau butuh uang, dan saya pun demikian. Itulah sebabnya mengapa saya menggantikannya. Maaf, Bu. Kalau cerita saya tadi mengganggu, saya betul-betul mohon maaf. Tidak ada maksud apa-apa, selain untuk mencairkan suasana saja. Sekali lagi mohon maaf, Bu.”
“Sudahlah … nggak apa-apa.”
“Sebentar lagi kita sampai. Ibu mau diturunkan di mana?” tanya Hamdan.
“Di depan sana, di hotel itu,,” tunjuknya ke satu gedung bertingkat.
“Baik, Bu.”
Wanita itu agak kesulitan untuk coba mengamati wajah si sopir taksi saat hendak membayar, sebab selain merendahkan lidah topinya, Hamdan pun seperti enggan bertatap muka. Mungkin masih merasa malu karena membuat penumpangnya agak kesal dengan ceritanya tadi. Sehingga terkesan ingin buru-buru terima uang lalu pergi.
Hampir bersamaan dia berlalu, sebuah taksi lain merapat dan berhenti. Seorang wanita ayu, berkulit putih dengan rambut dicat pirang, berusia sekitar 30-an , turun dan langsung menghambur. “Kakaaaaak …!” teriaknya girang.
“Hetty? Lho, kok ko ada di sini?” seru wanita yang tadi menumpang taksi Hamdan, dan sesaat gelagapan ketika tubuhnya dipeluk kuat-kuat.
“Iyalah! Aku kan tahu. Tiap kali ke Jakarta kan Kakak selalu nginap di hotel ini. Hapallah aku …” sahut Hetty. “Ah, Kakak tega kali, nggak mau nginap di tempatku …” lanjutnya merajuk.
“Aaah, ko ini mengkek kali pun! Macam tak tahu aja ko ini. Tiap rapat di Jakarta, pasti di hotel ini, jadi hemat waktu dan tenaga kan kalo nginap di sini.”
“Tapi besok sebelum balik, mampir, ya?”
“InsyaAlloh …”
“Janji, ya? Awas kalau tak  ditepati,” ancam Hetty.
Wanita yang dipanggil ‘kakak’ itu tersenyum getir. Tiba-tiba dia ingat dengan cerita sopir taksi tadi soal janji setia. Hela nafasnya terasa berat, dan sambil merangkul Hetty, dia mengajaknya ke dalam.
                                                                        ***

“Bang …?”
“Hmm ....”
“Abang kok diam aja?”
“Ya mau bicara apa lagi? Situasi sudah berubah. Sekian puluh tahun waktu menyela, dan kini tak ada lagi yang tersisa.”
“Dia sempat membicarakan soal Abang. Tak banyak, sih. Tapi sepertinya dia menyesal. Abang tak berusaha mendekatinya lagi? Sekarang dia janda lho, Bang?”
“Hallaah, ko ini macam-macam aja!”
“Tapi Abang masih cinta kan sama dia? Buktinya waktu Ti bilang dia mau ke Jakarta, respon Abang cepat kali. Tapi Abang tak coba untuk lihat-lihat dia?”
“Nggak.”
“Ah, bohong lah! Dia sempat curiga sama sopir taksi yang ngantar dia ke hotel. Itu Abang, ya?”
Tak ada jawaban.
“Ti yakin itu pasti Abang. Abang nyopir taksi di bandara?”
“Nggak, cuma nyerep ….”
“Ti jadi ingat sesuatu. Sejak di Jakarta, kita baru dua kali ketemu, dan Abang tak pernah mau cerita soal pekerjaan atau usaha. Bahkan Ti mau ke rumah aja,Abang tak mau ngajak. Abang kenapa, sih? Meskipun kita bukan saudara kandung, tapi ikatan darah satu bapak itu kan kuat, Bang? Apa Abang tak anggap Ti sebagai saudara? Waktu Abang masih tinggal di Medan, Ti aja sudah anggap sebagai saudara kandung. Kenapa sih, Bang?”
Kembali hening.
“Bang Hamdan?”
“Ya ….”
“Kenapa?”
“Nantilah suatu waktu pasti akan abang ajak ko ke rumah, cuma tidak sekarang ….”
“Kenapa? Abang malu kalau rumah jelek dan Ti hina?”
“Sudahlah, nggak usah dibahas. Sudah malam, ko harus tidur. Lain waktu kita sambung lagi.”
Ti menghela nafas. “Kak Mayang kirim salam sama Abang. Dia titip nomornya, siapa tahu Abang mau menghubunginya. Nanti Ti sms.”
“Malam, Ti. Jaga kesehatan, ya? Assalaamu’alaikum ….” Kata Hamdan tak merespon ucapan adiknya.
“Malam juga, Bang. Sama-sama. Wa’alaikumsalaam ….”
Hamdan baru saja meletakkan hp ketika seseorang datang menghampiri. “Biasa, Bang. Rokok setengah ama kacangnya dua. Besok minta ama bapak, ya?” kata si pembeli. Hamdan cuma nyengir sambil menyerahkan pesanan. Si pembeli adalah anak Haji Juhari, yang dengan kebaikannya memberi tempat untuk meletakkan kios rokok di atas got depan rumahnya; di mana Hamdan mencari nafkah, dan sekaligus sebagai rumahnya. Mana mungkin dia berani menagih, karena orang lain saja berani membayar tempatnya sejuta sebulan sebagai ongkos sewa, sementara dia gratis. Bahkan gratis pula menumpang mandi dan BAB di tempat Haji Juhari.
Ti atau Hetty, adik tirinya, bekerja pada sebuah perusahaan asing, sedangkan Mayang, menurut cerita Hetty, adalah direktur area yang mengawasi kawasan Asia Tenggara dari sebuah perusahaan farmasi asing. Bandingkan dengan dirinya? Masih beranikah dia bicara cinta dan menagih kesetiaan? Hamdan yang bodoh dan lugu. Cinta pertama kepada tetangga sebelah rumah, hanya karena diberi perhatian yang selama ini jarang diperolehnya, maka cinta pun terpatri, dan kesetiaan pun dilekat jadi satu. Tak peduli hati tersakiti, janji tetap dijunjung tinggi.
Hhhh …. Hela nafasnya terasa berat, dan bertambah sesak kala sebatang rokok dihisapnya. Udara malam ini terasa dingin tatkala angin bertiup membawa butiran air yang mengembun. Malam terasa pekat tanpa bulan. Awan hitam begitu merajai tiap kaki langit beberapa waktu belakangan, sehingga tak lagi dilihatnya senja di ujung siang.
                                                                        ***
                                                            T A M A T                             
Jakarta

13-07-2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar