Jalan masih terasa gersang dan
kering. Satu dua truk tanah melintas menimbulkan kepulan debu berwarna kuning
kemerahan. Sementara pohon-pohon Akasia yang berjajar di kanan kiri pintu gerbang, memandang
sendu dan tertunduk memperhatikan batangnya yang kusam, keriput, dan layu. Saya
mendekat, dan mengusap satu di antaranya, coba merasakan tiap guratan serta
residu dari semua peristiwa yang terekam
olehnya.
“Sendiri?” tanya Evi. Sejenak dia melambaikan sebelah tangan pada teman yang baru ke luar. “Nin mana?”
Jun menggeleng. “Belakangan Nin dekat sama Yus?” tanya Evi lagi sambil mendekat. Hela nafasnya terdengar, seakan coba menyamakan frekuensi kegundahan dalam hati saya. “Sabar ya, Jun …?”
Jun tersenyum tipis. Evi gadis cantik berkulit putih dengan hidung bangir. Sebelum lensa kontak dikenal, kedua iris matanya sudah berwarna sedikit kebiru-biruan alami. Banyak yang menduga bahwa di antara mereka berdua ada hubungan spesial, padahal kenyataannya tidak demikian. Kedekatan terjadi hanya karena kedua orangtua saling berteman, hingga secara periodik sejak kecil relatif sering bertemu. Lebih dari itu, Jun tidak menyukainya seperti layaknya suka kepada pacar. Pada waktu itu alasannya sederhana, secara fisik tubuh Evi tinggi dan besar. Jadi … ya teman saja. Konyolnya, dalam banyak kesempatan dia suka memperkenalkan Jun sebagai ‘adik’.
Evi pernah bilang Jun frigid kepada cewek. Alasannya sederhana, karena tak pernah melihat Jun dekat dengan cewek dalam hubungan yang biasa maupun khusus. Sebenarnya tidak ‘heboh’ begitu, melainkan karena ketidakmampuan bersosialisasi saja hingga kesannya canggung, dan tak peduli. Maka saat di SMA mereka bertemu, dia memperkenalkan Nindi. Katanya teman semasa SMP. Orangnya cantik, rambutnya panjang, dan kata banyak orang bibirnya seksi. Dibanding Jun, Nindi lebih berani dan agresif meski di awal perkenalan terlihat malu-malu.
“Sendiri?” tanya Evi. Sejenak dia melambaikan sebelah tangan pada teman yang baru ke luar. “Nin mana?”
Jun menggeleng. “Belakangan Nin dekat sama Yus?” tanya Evi lagi sambil mendekat. Hela nafasnya terdengar, seakan coba menyamakan frekuensi kegundahan dalam hati saya. “Sabar ya, Jun …?”
Jun tersenyum tipis. Evi gadis cantik berkulit putih dengan hidung bangir. Sebelum lensa kontak dikenal, kedua iris matanya sudah berwarna sedikit kebiru-biruan alami. Banyak yang menduga bahwa di antara mereka berdua ada hubungan spesial, padahal kenyataannya tidak demikian. Kedekatan terjadi hanya karena kedua orangtua saling berteman, hingga secara periodik sejak kecil relatif sering bertemu. Lebih dari itu, Jun tidak menyukainya seperti layaknya suka kepada pacar. Pada waktu itu alasannya sederhana, secara fisik tubuh Evi tinggi dan besar. Jadi … ya teman saja. Konyolnya, dalam banyak kesempatan dia suka memperkenalkan Jun sebagai ‘adik’.
Evi pernah bilang Jun frigid kepada cewek. Alasannya sederhana, karena tak pernah melihat Jun dekat dengan cewek dalam hubungan yang biasa maupun khusus. Sebenarnya tidak ‘heboh’ begitu, melainkan karena ketidakmampuan bersosialisasi saja hingga kesannya canggung, dan tak peduli. Maka saat di SMA mereka bertemu, dia memperkenalkan Nindi. Katanya teman semasa SMP. Orangnya cantik, rambutnya panjang, dan kata banyak orang bibirnya seksi. Dibanding Jun, Nindi lebih berani dan agresif meski di awal perkenalan terlihat malu-malu.