Dropdown

Rabu, 05 Oktober 2016

KEMARAU YANG BASAH



Jalan masih terasa gersang dan kering. Satu dua truk tanah melintas menimbulkan kepulan debu berwarna kuning kemerahan. Sementara pohon-pohon Akasia  yang berjajar di kanan kiri pintu gerbang, memandang sendu dan tertunduk memperhatikan  batangnya yang kusam, keriput, dan layu. Saya mendekat, dan mengusap satu di antaranya, coba merasakan tiap guratan serta residu dari semua peristiwa  yang terekam olehnya.

“Sendiri?” tanya Evi. Sejenak dia melambaikan sebelah tangan pada teman yang baru ke luar. “Nin mana?”

Jun menggeleng. “Belakangan Nin dekat sama Yus?” tanya Evi lagi sambil mendekat. Hela nafasnya terdengar, seakan coba menyamakan frekuensi kegundahan dalam hati saya. “Sabar  ya,  Jun …?”

Jun tersenyum tipis. Evi gadis cantik berkulit putih dengan hidung bangir. Sebelum lensa kontak dikenal, kedua iris matanya sudah berwarna sedikit kebiru-biruan alami. Banyak yang menduga bahwa di antara mereka berdua ada hubungan spesial, padahal kenyataannya tidak demikian. Kedekatan terjadi hanya karena kedua orangtua saling berteman, hingga secara periodik sejak kecil relatif  sering bertemu. Lebih dari itu, Jun tidak menyukainya seperti layaknya suka kepada pacar. Pada waktu itu alasannya sederhana, secara fisik tubuh Evi tinggi dan besar. Jadi … ya teman saja. Konyolnya, dalam banyak kesempatan dia suka memperkenalkan Jun sebagai ‘adik’.

Evi pernah bilang Jun frigid kepada cewek. Alasannya sederhana, karena tak pernah melihat Jun dekat dengan cewek dalam hubungan yang biasa maupun khusus. Sebenarnya tidak ‘heboh’ begitu, melainkan karena ketidakmampuan bersosialisasi saja hingga kesannya canggung, dan tak peduli. Maka saat di SMA mereka bertemu, dia memperkenalkan Nindi. Katanya teman semasa  SMP. Orangnya cantik, rambutnya  panjang, dan kata banyak orang bibirnya seksi. Dibanding Jun, Nindi lebih berani dan agresif meski di awal perkenalan terlihat malu-malu.


Tidak begitu jelas apakah  Nindi falling in love sama Jun, tapi kata Evi sih iya. Bukti yang Jun dapat adalah, mereka suka pulang bareng. Bahkan adakalanya Nin nyamper ke rumah saat  berangkat ke sekolah. Hal yang meragukan adalah, watak Nindi yang selalu ramah kepada cowok manapun, sehingga ketika Jun merasa bahwa benih cinta sudah tumbuh, rasa cemburu seperti datang  satu paket.

“Siap buat surprise, ya? Jangan lupa dan jangan malu-maluin! Ini kesempatanmu untuk membuktikan dan sekaligus mengetahui lebih dalam apakah dia memang cinta atau tidak,” pesan Evi mengingatkan  ketika pada  ulang tahun Jun dan dia merencanakan sesuatu.  Hhh … Jun menghela nafas sesak. Seumur-umur tidak pernah mengadakan ritual ulang tahun, dan sekarang demi  Nindi .. Demi untuk membuktikan hal itu, haruskah ...?

Akhirnya secara sangat sederhana, dilakukan juga. Tak ada tamu lain diundang, selain mereka. Evi membuat skenario, di mana acara suap-suapan terjadi antara Jun dan Nin. Kemudian entah apa yang mereka rencanakan, Evi  akhirnya ke belakang dan ngobrol lama dengan Ibu, meninggalkan mereka berdua. Selimut sunyi membungkus keduanya, dan irama hening mengalun begitu sahdu. Jun mati-matian berusaha menahan grogi dan suasana hati yang tak tahu namanya. Nin, mungkin juga begitu. Lima belas menit waktu menyita ketika pada akhirnya orchestra sepi pun berakhir.

“Happy  birthday, Jun ….” ucapnya lirih. “Semoga apa yang dicita-citakan terkabul.” Nin  berdiri mengulurkan tangan. Jun ikut berdiri grogi, dan ketika Nin semakin dekat, keringat dingin mengucur cepat. Udara malam yang dingin terasa panas, dan apa yang tadi sudah dimakan tak mampu memberi support energi yang mendadak nge-drop. Lampu  indikator merah berkedap-kedip … emergency! Must be charged for something I didn’t  know yet.

“Maaf, tadi saya  belum mandi … pasti bau … bau banget, ya?” Jun kembali duduk sambil coba menggebah grogi yang tak henti coba mendekap. “Saya … saya … Eh, diminum dulu. Ayo, diminum dulu!”

“Iya, makasih ….” Nin tersenyum tipis, dan terasa pahit terlihat. Kemudian tak banyak bicara lagi hingga mereka pulang.

“Dasar bodoh!” umpat Evi keesokan harinya. “Dia sudah bilang mau kasih kado ulang tahun, kok malah culun gitu?!”

“Kan udah? Isinya bingkai foto …”

“Bukan ituuuu ….! Dia mau kiss ke kamu. You know kiss, Mr. Innocent? Sesuatu yang special bagi orang yang berpacaran  dan itu artinya dia lope sama kamu. Do you understand that?! Kamu malah cuek aja, dan …hhhaaahhh.” Evi menghela nafas sesak, coba mengontrol emosi. Sepertinya kurang berhasil begitu melihat ekspresi wajah bodoh yang terpancar dari Jun. “Kita lihat nanti saja, deh ….lanjutnya sambil melangkah ke dalam kelas karena bel telah berbunyi.

***

“Kita lihat nanti saja” yang diucapkan Evi semula tak dipahami Jun, karena kesederhanaan  dalam berpikir. Jadi Jun pikir, esok lusa akan baik-baik saja. Bahkan lucunya Jun sudah merencanakan sesuatu ke depan, seperti misalnya: lulus sekolah akan kuliah, lalu kerja, dan … merencanakan berumah tangga. Nin pasti mau menunggu, seperti kesetiaan cinta ala Romeo and Juliet, atau Pranacitra dan Menakjingga.

Seperti biasa, Jun menunggu di depan  usai bel sekolah, dekat pohon Akasia yang  berjajar rapi. Semenit … lima menit … hingga lima belas menit. Sebagian besar siswa sudah pulang, tapi Nin belum terlihat juga.  Dia melirik pintu gerbang, dan … trak! Seperti ada yang berderak di hati ketika melihat Nin dibonceng oleh Yus, adik kelas mereka yang masih kelas satu. Nin tertawa cekikikan, senang sekali. Saat motor  melewatinya, Nin  melambaikan sebelah tangan. Jun terdiam, bukan cuma tubuhnya, tapi akal dan perasaannya pun melakukan gerak serupa.

Dia berharap itu cuma mimpi. Kalaupun kenyataan, mungkin hanya kekhilafan semata. Harapan Jun ternyata kosong belaka. Esok dan lusa, sama saja. Nin tak peduli padanya, Tetap sering berduaan dengan Yus. Lebih menyakitkan lagi, dia pun melakukan hal yang sama kepada beberapa orang lainnya seperti Ridwan, Dodi, dan Kaslan.

Dari hari ke hari Nin semakin jauh, beserta kata dan sikap. Kedekatan mereka selama beberapa lama seperti air tertuang ke dalam tumpukan pasir. Tidak ada berita acara dan pengumuman bahwa hubungan mereka telah berakhir. Semua berjalan seperti tak pernah terjadi apa-apa. Bukan cuma itu, tapi Nin pun semakin liar. Dalam seminggu ada saja hari di mana dia bolos. Berita terdengar bilang bahwa Nin kemping bersama gengnya ke luar kota, entah ke gunung atau ke laut. Jun merasa miris, karena geng yang disebut itu mayoritas lelaki.

Evi angkat bahu, dan bilang, “ Setahuku dulu kelakuan Nin tidak seperti itu. Entah apa yang membuatnya sekarang jadi liar. Mungkin dia frustrasi kali, Jun ….”

Frustrasi? Apakah kata itu yang layak ditujukan untuk Nin? Apa tidak sebaliknya? Jun yang dengan segala harapan yang baru tumbuh, seperti kembang yang siap mekar, tiba-tiba harus layu karena ulah Nin yang aneh, berubah seratus delapan puluh derajat. Jun yang baru saja melangkah ke dalam sebuah ruangan, yang banyak orang bilang indah, lalu menerima kenyataan pahit bahwa tempat yang diceritakan orang-orang itu kenyataannya suram. Jun yang semula hatinya berada dalam zona nyaman, tiba-tiba seperti puzzle yang bentuknya tak jelas dan sulit untuk mereformasi pada bentuk semula.

Setahun ini boleh dibilang mereka tak pernah bicara lewat kata, hanya pandangan mata yang sesekali bicara lewat bahasa yang sulit dipahami, hingga mereka lulus SMA. Kemudian setelah itu tak pernah bertemu, ataupun bertukar informasi, hingga belasan tahun menyela. Bahkan –mungkin—dua puluh tahun! Lalu jaman pun berubah, dan waktu menata semua yang pernah ada dan terjadi. Ada rasa kangen yang muncul secara periodik, meski cuma sekian persen. Itupun di saat-saat melewati lokasi sekolah.

Seorang teman mengatakan bahwa angkatan mereka sekarang banyak di facebook, lalu Jun pun dibuatkan satu akun, dan diajarkan bagaimana cara menggunakannya. Jujur, orang pertama yang  dicari dan akan di add adalah Nin. Hal yang mengejutkan terasa dan membuat Jun terpaku sekian lama seolah tak percaya. Nin kini berhijab, dan lebih agamis. Status dan teman-temannya di sana pun sewarna. Lebih dari itu, Nin telah berkeluarga. Kecintaannya kepada keluarga digambarkannya dengan sering meng-upload foto suami dan putra-putrinya. Syukurlah ….

Angin senja ini terasa dingin, dan membuat ranting serta dedaunan pohon Akasia bergerak-gerak gembira setelah sekian lama kering. Langit pun terlihat melembab dengan beberapa awan basah menggantung. Sebentar lagi akan turun hujan, pikirnya. Dia pun menghela nafas sesaat sebelum memasukkan kunci motor. Lusa dia akan pergi ke Manado dan tinggal di sana entah berapa lama, jadi akan sulit baginya untuk melihat sekolah dan pohon-pohon Akasia itu lagi.

                                                              ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar